October 16, 2026

Sejarah

Sejarah Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin tidak terlepas dari berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Awal Fakultas Kedokteran Unhas yang berdiri pada tanggal 10 September 1956 belum memiliki tenaga pengajar ataupun kurikulum pendidikan klinik. Baru setelah 4 tahun kemudian mahasiswa akan menjalani pendidikan koskap bagian ilmu penyakit dalam dan bagian klinik lainnya mulai dibentuk.

Prof. Dr. Ma’ruf yg menjadi perintis Departemen Ilmu Penyakit Dalam di Makassar. Beliau adalah dokter lulusan sekolah tinggi kedokteran geneeskundige hooge-school yang pada masa pendidikannya sempat berubah nama menjadi Ika Daigako oleh pemerintah pendudukan Jepang yang saat ini dikenal dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dr. Ma’ruf yang sebelumnya adalah seorang tentara memilih meninggalkan karir ketentaraannya dan melanjutkan pendidikan kedokterannya di Universitas Utctret di negeri Belanda.

Sepulang menyelesaikan pendidikan internisnya di Belanda di tahun 1955, Dr. Ma’ruf mulai bekerja di rumah sakit tentara di Makassar yang saat ini dikenal dengan nama Rumah Sakit Pelamonia. Penempatan di Rumah Sakit Pelamonia ini sekaligus memberikan kesempatan untuk menerapkan hasil pendidikan selama di Utctret, beliau lalu diajak oleh Profesor Waroh, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin untuk menjadi dosen sekaligus menjadi tenaga pengajar pertama Ilmu Penyakit Dalam.

Cikal bakal pendidikan spesialis ilmu penyakit dalam di unhas dimulai dengan diterimanya beberapa dokter menjadi asisten Prof. Ma’ruf yang tercatat menjadi asisten awal internal pada saat itu, yakni dokter Santa Jota yang merupakan dokter lulusan Universitas Airlangga, dokter Giyo Yongcu, dokter Lin Sekom, dokter Filipus Atihuta dan dokter Junus Alkatiri. Diantara kelima asisten interna pertama tersebut hanya dokter Santa Jota dan dokter Junus Alkatiri yang nantinya menyelesaikan pendidikan ilmu penyakit dalamnya. Lalu setelahnya kembali melamar beberapa dokter untuk menjadi asisten ilmu penyakit dalam, yakni Dokter Ham Akil, Dokter Hans Wewengkang, Dokter John Adam, Dokter Agus Tesy, Dokter Amir Abdullah, Dokter Rifai Amirudin, Dokter Harsinen Sanusi, dan Dokter Edward Stefanus Tehupeiory.

Awal kegiatan Bagian Ilmu Penyakit Dalam berpusat pada dua rumah sakit utama di Makassar yakni di Rumah Sakit Pelamonia dan Rumah Sakit Dadi. Pada tahun 1962, atas usul Prof. Ma’ruf, Rumah Sakit Akademis Jaury Jusuf Putra yang didirikan oleh Jendral M. Yusuf dengan konsep Rumah Sakit Pendidikan. Rumah Sakit Akademis kemudian juga menjadi salah satu tempat aktivitas pendidikan Kedokteran Universitas Hasanuddin termasuk Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Unhas.

Dokter Santa Jota menjadi dokter assistant pertama yang dinobatkan sebagai ahli penyakit dalam oleh Prof Ma’ruf di tahun 1969. Saat itu penentuan kelayakan seorang dokter menjadi Ahli Penyakit Dalam di Universitas Hasanuddin belum melalui proses ujian khusus melainkan berdasarkan penilaian pribadi dari Profesor Ma’ruf. Metode penilaian ini merupakan model penilaian yang lumrah pada dunia pendidikan kedokteran Belanda saat itu.

Padai tahun 1970, Tim Konsorsium Ilmu Kesehatan atau Konsorsium Health Science dari Jakarta yang berada dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melakukan survei ke Universitas Hasanuddin. Tim ini kemudian memberikan rekomendasi pendidikan pada asisten yang ingin menyelesaikan pendidikan formal Ilmu Penyakit Dalam di Jawa,  yakni Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, dan Universitas Padjadjaran.

Di tahun 1972, dokter Junus Alkatiri berhasil mendapatkan gelar Ahli Penyakit Dalam dari Universitas Airlangga. Kemudian dokter HAM Akil menyelesaikan pendidikan penyakit dalamnya di Universitas Airlangga pada tahun 1973, dokter Hans wewengkang menyelesaikan pendidikan penyakit dalamnya di universitas Airlangga di tahun 1975, dokter Agus Tessy mengambil pendidikan Ahli Penyakit Dalamnya di Universitas Indonesia dan selesai di tahun 1976, dokter John Adam menyelesaikan pendidikannya di Universitas Padjadjaran di tahun 1976, dokter Amir Abdullah mendalami ilmu penyakit paru di Universitas Airlangga dan menjadi pulmonologist di tahun 1976. Kemudian dokter Rifai Amiruddin menyelesaikan pendidikan Ahli Penyakit Dalamnya di Universitas Diponegoro dan selesai di tahun 1978, Kemudian dokter Harsinen Sanusi mengambil pendidikan Ahli Penyakit Dalamnya di Universitas Airlangga dan selesai di Tahun 1979, dan dokter Edward Stefanus Tehupeiory mengambil pendidikan ahli penyakit dalamnya di Universitas Airlangga dan selesai di Tahun 1979.

Setelah menyelesaikan Ilmu Penyakit Dalam di Jawa, para generasi awal Bagian Ilmu Penyakit Dalam Universitas Hasanuddin mulai memperjuangkan agar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin dapat menyelenggarakan Pendidikan Spesialis Ilmu Penyakit Dalam secara formal dan terdaftar di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Syarat utama untuk menjadi Pusat Pendidikan Spesialis Penyakit Dalam adalah harus memiliki minimal 7 subdivisi utama yakni Kardiologi, Gastroenterohepatologi, Endokrin Metabolik, Ginjal Hipertensi, Hematologi, Pulmonologi dan Penyakit Tropis Menular. Kemudian dr Santa Jota melanjutkan pendidikan kardiologi di Belanda pada tahun 1973 dan sekembalinya dari Belanda, dr Santa Jota tercatat sebagai ahli jantung pertama di Indonesia yang memiliki keahlian mengoperasikan Ekokardiografi.

Dambil menunggu surat resmi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Universitas Hasanuddin memulai penerimaan asisten secara formal pada tanggal 1 Juli 1974. Dr Nico Pontoh dari Universitas Indonesia menjadi residen pertama Bagian Ilmu Penyakit Dalam Universitas Hasanuddin diikuti Dr Halim Mubin yang menjadi residen kedua pada 1 Januari 1975.

Dalam usaha mendirikan Pusat Pendidikan Ilmu Penyakit Dalam di Universitas Hasanuddin sekaligus menyempurnakan keilmuan yang dimilikinya, para ahli penyakit dalam membagi diri untuk memperdalam keilmuan divisi, dr Junus Alkatiri mempelajari cardiovascular medicine di Singapura di Tahun 1979 dan menyelesaikan pendidikan kardiologi di Universitas Indonesia 1981, dr HAM Akil memperdalam gastroenterohepatologi di Institute of Gastroenterology, Jepang di tahun 1976 dan Erasmus University, Belanda di tahun 1982, beliau lalu mendapatkan brevet Internist Gastroenterohepatologi di tahun 1986, dr Hans Wewengkang memperdalam ilmu Hematologi Onkologi Medik di Hongkong University tahun 1978-1979, dr John Adam memperdalam endokrinologi di Erasmus University, Rotterdam di tahun 1982 dan mendapatkan gelar Konsultan Endokrin Metabolik di tahun 1986, dr Agus Tessy memperdalam Ilmu Penyakit Ginjal Hipertensi di Erasmus University, Rotterdam tahun 1982 dan mendapatkan gelar konsultan Nefrologi di Universitas Indonesia di tahun yang sama, dr Harsinen Sanusi memperdalam Ilmu Penyakit Endokrin Metabolik dan mendapatkan gelar Konsultan Endokrin Metabolik di tahun 1986, dr Edward Stefanus Tehupeiory memperdalam ilmu reumatologi di Universitas Indonesia dan meraih gelar Konsultan Rheumatologi di tahun 1986, dr Rifai memperdalam ilmu gastroenterohepatologi, beliau menjadi Konsultan Gastroenterohepatologi pada tahun 1986. Meskipun belum memiliki gelar spesialis penyakit dalam, dr Hasan mendapatkan keahlian di bidang penyakit tropis menular dari Thailand juga menjadi Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam dan melengkapi Divisi Penyakit Tropis bersama dr Meyer. Akhirnya pada tanggal 5 September 1979 dengan kelengkapan 7 divisi ilmu penyakit dalam yakni kardiologi, gastoenterohepatologi, endokrin metabolik, ginjal hipertensi, hematologi, pulmonologi, dan penyakit tropis menular, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Unhas diakui menjadi salah satu Pusat Pendidikan Ilmu Penyakit Dalam di Indonesia.

 

Pada 5 September 1981 dr Halim Mubin menjadi residen pertama yang menyelesaikan pendidikan di Ilmu Penyakit Dalam Universitas Hasanuddin dan mendapatkan gelar brevet Spesialis Penyakit Dalam.  Beliau kemudian memperdalam penyakit tropis infeksi di Mahidol University Tropical Medicine, Thailand pada tahun 1982 dan menyelesaikan pendidikannya di tahun 1985.

Di tahun 1986, divisi geriatri mulai dikembangkan oleh Profesor Junus Alkatiri dengan dilaksanakannya simposium geriatri oleh Fakultas Kedokteran Unhas dan Ikatan Dokter Indonesia Cabang Ujung Pandang yang diketuai langsung oleh beliau. Kemudian dr Wasis Udaya yang menyelesaikan pendidikan internisnya di tahun 2002 melanjutkan pengembangan divisi tersebut dan telah mendapat brevet Konsultan Geriatri. Selanjutnya dr Syamsu yang telah menyelesaikan Spesialis Penyakit Dalamnya di tahun 1987, diutus ke Universitas Indonesia untuk mendalami Subdivisi Alergi Imunologi pada tahun 1989, dan menyelesaikan pendidikannya di tahun 1990. Kemudian dr Hans Wewengkang menyerahkan pengembangan Divisi Hematologi Onkologi Medik, kepada dr Andi Fachruddin yang menyelesaikan pendidikan Spesialis Penyakit Dalamnya pada tahun 1994, melanjutkan pendidikan dan mendapatkan gelar Konsultan Hematologi Onkologi Medik di tahun 2000.

Hingga saat ini bagian ilmu penyakit dalam telah mendidik sebanyak 572 dan meluluskan sebanyak 416 ahli penyakit dalam yang tersebar di seluruh Indonesia. Pusat aktivitas pendidikan Bagian Ilmu Penyakit Dalam mulai berpindah ke Rumah Sakit Wahidin di tahun 1987 dan Kantor Bagian Ilmu Penyakit Dalam juga telah mengalami beberapa kali perpindahan. Awalnya di Rumah Sakit Pelamonia berpindah-pindah ke Rumah Sakit Dadi hingga tahun 1987, kemudian berpindah ke Rumah Sakit Wahidin dan di tahun 2009 hingga 2010 sempat berkantor di gedung rumah sakit gigi Universitas Hasanuddin dan sejak tahun 2010 hingga kini berada di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin.